Zebra Cross

zebra cross fanfiction indonesia yoo ara jang hyunseung.jpg

Zebra Cross | Cho Hika | Tragedy, Romance, Family | PG-15 | Oneshot (4000+ words)

 

Yoo Ara, Jang Hyunseung, Kwon Yuri

 

Disclaimer : Cast belong to God, plot and poster are mine!

 

A/N : Align Right untuk flashback

 

________

 

“Ara, pegang tangan eonni erat-erat!”

“Iya.”

 

 

Distrik Gangnam. Siapa yang tidak tahu? Distrik terpadat di Korea Selatan ini tidak pernah sepi dari khalayak ramai. Baik pejalan kaki ataupun pengendara, semuanya menjadi satu. Singkat kata, ramai.

Seorang gadis belia bertubuh mungil kesulitan berjalan. Seringkali ia tertabrak dan bahkan menabrak pejalan kaki lainnya. Ini sudah kesekian kalinya kaki indahnya yang berbalut flat shoes berwarna peach di injak oleh orang lain. Padahal flat shoes itu baru saja dibelikan oleh eonni nya, Yuri. “Ara, ini hadiah ulang tahunmu, Maaf atas kesederhanaannya. Jaga baik-baik ya..” Kira-kira begitulah tiga kalimat dari pesan suara yang didapat Ara dari eonni nya, Yuri, yang baru saja mendapat gaji pertama dari hasil kerjanya di perpustakaan kota.

Hari ini adalah hari ulang tahun Ara. Tadi pagi saat terbangun dari tidur, ia langsung di kejutkan dengan kotak berwarna peach di atas meja nakasnya. Tetera sebuah tulisan disana. “Teruntuk adikku tersayang, Ara. Maaf, eonni harus segera pergi bekerja.” Setelahnya, Ara segera mengecek ponselnya dan mendapat pesan suara dari eonni nya. Dan sekarang, eonni nya justru memerintahkan Ara untuk segera pergi ke perpustakaan kota karena Yuri juga menyediakan kejutan lainnya untuk Ara.

 

Ara terus melihat ke bawah. Bagaimana jika eonni nya melihat hadiah −hasil jerih payah nya menjadi sangat kotor akibat terinjak-injak? Mungkin saja ia akan marah. Atau setidaknya ia akan bersikap acuh pada Ara selama beberapa bulan. Astaga! Ditepisnya jauh-jauh pikiran kotor yang terus berseliweran di benak Ara itu. Sekarang yang harus dipikirkan adalah bagaimana caranya sampai ke perpustakaan kota tepat waktu? Karena terlambat sebentar saja, Ara tidak akan bertemu eonni nya yang akan di sibukkan dengan kegiatan perpustakaan kota yang tidak pernah sepi pengunjung.

 

Ara menghela nafas. Dahulu saat ia masih berusia enam tahun, eonni nya mengajaknya ke perpustakaan kota. Kala itu jalanan juga sedang sangat ramai. Eonni nya tak pernah berhenti mengucapkan satu kalimat yang Ara hafal betul hingga sekarang. “Ara, pegang tangan eonni erat-erat, kalau tidak kau akan tersesat.” Ya, ya, ya. Bukankah itu karena Ara masih kecil? Sekarang kan ia sudah besar. Tapi ia masih ingat saat bulan lalu, eonni nya juga mengucapkan kalimat yang sama saat mereka terjebak di airport dengan lalu lintas padat. Lucu.

 

_____

 

Seseorang didepan Ara menjatuhkan sesuatu. Ah, tidak-tidak! Sepertinya bukan menjatuhkan, tapi tak sengaja terjatuh. Ya, sepertinya begitu! Maka dengan gerakan kilat Ara mengambil benda itu yang tampaknya sebuah kaset yang disampulnya tertera sebuah inisial JHS.

“JHS!” Pekik Ara ditengah keramaian. Ia berusaha mendongakkan kepalanya, berharap seseorang yang berinisial JHS itu akan mendengarnya dan berbalik arah menghampirinya. Kalau tidak salah, orang yang –tidak sengaja menjatuhkan kaset ini adalah seseorang yang menggunakan jaket dan earphone di telingnya. “Tuan JHS!” Seru Ara sekali lagi. Matanya memicing mencari orang yang disebutnya Tuan JHS itu. Dapat!

Ara menyelip di antara langkah kerumunan orang untuk berbelok kea rah kanan. Ya! Tadi ia memang melihat Tuan JHS itu berbelok ke arah kanan. Di persimpangan sebelum kelokan, Tuan JHS itu sempat menoleh dan Ara melihatnya! Sama sekali tidak menggubris. Ya, begitulah. Tuan itu justru tampak memaksimalkan volume musik dari i-phone nya.

Jiwa saling menolong memang sudah ditanamkan di keluarga Ara. Hanya dengan mengejar seseorang yang kehilangan barangnya mungkin bukan apa-apa bagi Ara. Berlari melewati kerumunan pun tak jadi masalah. Tapi menyebrang? Dia takut.

Tuan JHS tampak melangkahkan tungkainya mengikuti lajur zebra cross. Selagi lampu hijau masih menyala terang untuk pejalan kaki, Ara memberanikan diri menyebrangi jalanan yang tampak lebih dari 3 km –di mata Ara.

 

“Eonni, aku takut menyebrang. Bagaimana jika aku tertabrak nanti? Bagaimana jika aku mati?”

“Jangan bicara seperti itu sayang. Kau hanya perlu memegang tangan eonni erat-erat dan kau akan baik-baik saja. Kau percaya pada eonni kan?”

“Iya.”

 

Entah apa yang memenuhi pikiran Ara kali itu. Setiap kali melihat zebra cross, yang ada di bayangannya hanyalah sebuah kematian atau paling tidak kecelakaan. Tiiiiiiiiin,

 

_____

 

Sedang asyiknya mendengarkan musik, seseorang yang disebut-sebut Tuan JHS itu ditabrak orang habis-habisan. Semuanya tampak panik. Hey! Ada apa? Mengapa kalian semua menabrakku? Kalian tidak punya mata hah?! Batinnya. Lantas ia melepaskan earphone nya dan mendengar teriakan yang samar-samar. “Kecelakaan!” “Gadis itu tertabrak!” “Panggil ambulan!” “Lihat darahnya!” “Aku melihatnya melamun ditengah jalan.” “Kemana pengendara yang menabraknya?”

 

Oh, tabrak lari ya..

 

Untuk pertama kalinya, seseorang berwatak acuh itu menoleh dan mendekati TKP (Tempat Kejadian Perkara). Dengan gaya santainya, ia menyelag di antara orang-orang yang membuat lingkaran hanya untuk menyaksikan kejadian yang sama sekali tidak pantas untuk menjadi tontonan khalayak ramai. Tepat! Saat ia sudah berada di lingkaran paling depan, korban sudah dibawa oleh ambulan. Dan yang tersisa sekarang hanyalah darah, tas, dan..

Kaset miliknya.

 

“Hey! Itu milikku!” Sahutnya sambil mendekat hendak mengambilnya. Namun apadaya seorang polisi menghadang langkahnya.

“Jangan melewati police-line dan jangan menyentuh segala sesuatu yang berada di dalam police-line.” Begitu kata polisi berbadan sterk itu sambil menjauhkan orang-orang untuk memberikan batas police-line.

“Tapi pak! Itu kaset milikku! Penting!” Timpal Tuan JHS tak mau kalah.

Polisi yang sedang memasang police-line itu lantas menghentikan aktifitasnya dan mendekat kea rah Tuan JHS. “Apa kau memiliki hubungan dengan kecelakaan ini?” Tanya pak polisi sambil memicingkan mata. Curiga.

“Tidak sama sekali!” Jawab JHS mantap. “Mungkin saja kasetku terjatuh saat aku sedang menyebrang.”

“Berhentilah bicara dan dengarkan apa kataku! Jangan menyentuh apalagi mengambil benda-benda yang berada didalam batas police-line.” Matilah kau JHS! Kalau memang masih memaksakan kehendak, sudah dapat dipastikan bahwa urusannya akan menjadi lebih rumit lagi. Kantor polisi. Tidak mungkin hanya untuk mengambil sebuah kaset ia merelakan dirinya berurusah lebih di kantor polisi. Tidak lucu.

Aku harus cari cara! Batinnya.

 

_____

St. Mary Hospital, Seoul

 

Eonni, aku takut menyebrang. Bagaimana jika aku tertabrak nanti? Bagaimana jika aku mati?” Ara terus mengigau. Suara paraunya menemani kesibukan di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit St. Mary. Darah terus mengalir deras dari pelipisnya. Badannya menggigil. Ia ketakutan. Sangat!

“Dokter, aku keluarganya! Bagaimana mungkin aku tidak diijinkan masuk hah?!” Sementara eonni nya tengah mengamuk pada beberapa perawat yang menjaga di luar pintu. Emosi? Sudah pasti! Yuri tahu betul bagaimana takutnya Ara pada zebra cross. Ia takut menyebrang. Tapi untuk apa dia menyebrang? Pikir Yuri. Bahkan perjalanan dari rumahnya ke halte ataupun dari halte ke perpustakaan kota tidak perlu menyebrang. Pasti ada sesuatu! Batin Yuri.

 

_____

 

“Benarkah ini satu-satunya rumah sakit yang dekat dengan tempat kecelakaan tadi?” Tanya seorang pemuda pada supir taksi yang baru saja ditumpanginya.

“Iya, ini rumah sakit yang paling dekat.” Jawab supir tersebut.

“Baiklah, terimakasih.”

“Sama-sama”

Setelah taksi yang mengantarnya kini meninggalkannya, pemuda yang kita kenal sebagai Tuan JHS itu tampak menimang-nimang. Masuk, tidak, masuk, tidak, masuk! Ah sial! Tampaknya ia membenci rumah sakit. Memang tidak sedikit orang yang membenci rumah sakit, atau lebih tepatnya membenci aroma rumah sakit. Dimana hanya tercium bau obat-obatan. Dan juga hanya ada suasana duka didalamnya. Satu lagi! Pemandangan darah menjadi hal lumrah disana.

Dengan ragu ia menapakan kakinya di tangga pertama rumah sakit St. Mary. Aku harus masuk! Begitu sugestinya. Tapi sayang, baru saja langkah keduanya ditempuh, Pemandangan tidak sedap dilihatnya dengan sangat jelas. Seseorang berbaring lemas di atas ranjang pasien yang didorong dengan tergesa-gesa oleh beberapa paramedis. Tak lupa seorang –yang bisa JHS tebak adalah salah satu kelurganya. Bagaiman tidak? Ia satu-satunya yang tidak menggunakan pakaian paramedis. Dan yang pasti, ia terus menangisi dan mengatakan hal-hal yang tidak jelas. “Kau kuat, kau harus bangun, Ara!”

Tak perlu pusing-pusing memikirkan orang lain, itulah prinsip JHS. Maka dengan santainya ia menuju meja resepsionis. “Aku mencari kamar pasien yang baru saja mengalami kecalakaan di jalan dekat perpustakaan kota.” Kata JHS.

“Tunggu sebentar, biar kami cek.” Beberapa detik pandangan resepsionis itu tertuju pada layar radiasi di hadapannya. Klik, klik, klik, begitu bunyi yang dihasilkan dari mouse yang terus di klik olehnya. “Pasien atas nama Yoo Ara ya?” Lanjut resepsionis itu.

Mana aku tahu! Batin JHS. “Iya.” Jawabnya malas.

“Pasien baru saja dipindahkan dari ICU ke Ruang Operasi.”

“Oh.” Balas JHS malas. Karena jawabannya barusanlah, JHS mendapat death glare dari sang resepsionis. “Ah! Maksudku separah itukah?” Lanjut JHS kikuk. Tapi resepsionis itu masih saja melemparkan death glare nya pada JHS. Di tempat yang menjunjung tinggi kemanusiaan, bias-bisanya JHS masih mengedepankan sifat acuhnya. “Berapa lama operasinya berjalan?”

“30 menit.” Jawab resepsionis sinis. Merasa malas menanggapi, JHS segera menjauh dari meja itu. Ia mendudukan diri di kursi tunggu pengunjung.

 

_____

 

Sambil memainkan jemarinya, ia menunggu. Jarum pada arloji di pergelangan tangannya terasa tidak bergerak. Waktu berjalan lama sekali saat kita menunggunya. Benara begitu bukan?

JHS mengusap wajahnya kasar. Bagaimana bisa ia terjerumus ke dalam masalah kompleks seperti ini? Mimpi apa dia semalam? Dia yakin saat pulang nanti, hyung nya akan memarahinya habis-habisan karena kaset rekamannya tidak ia bawa. Tapi siapa sangka? Lebih cepat dari yang dibayangkan! Nama kontak Hyung kini muncul di screen i-phone JHS. Apa yang harus dikatakannya?

Dengan setengah hati JHS mengangkat telepon itu. “Ya! Hyunseung! Berapa jarak yang kau tempuh dari rumah sampai studio? Mana lagu yang ingin kau jual itu hah?! Kau bilang kau sudah rekaman! Pembelinya sudah menunggu tau!” Semprotan yang luar biasa!

Hyung, aku.. ak.. aku…” Apa yang harus aku katakan? Aku tidak jadi menjual lagu itu. Tapi aku butuh uang! Bagaimana aku bias minum-minuman lagi dengan para gadis di bar kalau tidak dengan uang? Bagaimana aku bias mentraktir teman-temanku? Bagaimana jika aku dijauhkan? Eomma dan Appa tidak mungkin lagi memberiku uang sejak kejadian seminggu lalu saat aku mencuri sertifikat tanah appa di Busan. Sial!

“Aka ak ak! Bicaralah dengan jelas! Kau mempermalukanku saja!” Nada bicara orang di seberang telepon sana mulai meninggi. Tampak gerah dengan sikap pelan adiknya. Ia sudah menerka-nerka tentang apa yang dikatakan adiknya.

“Bisakah kau memberiku waktu? Setidaknya satu minggu, ah! Atau lebih? Bisa kau atur kan? Aku berjanji akan membawa kaset itu. Percayalah!”

“Baiklah, satu minggu!”

Bip bip bip.

Percakapan berakhir. Sial! Batin Hyunseung.

Hyunseung menghembuskan nafas keras, ia merasa benar-benar menjadi orang yang payah. Pertama, kaset rekamannya terjatuh. Kedua, ia harus berurusan dengan korban kecelakaan untuk mengambil kembali kasetnya. Ketiga, ia terkena dampratan dari hyung nya secara tidak langsung. Dan keempat, ia harus mendapat death glare yang tidak hentinya dari seorang resepsionis wanita. Dan sekarang apa? Setidaknya ia harus masih mematung kurang lebih 25 menit lagi sambil menerima death glare itu. Bagaimana rasanya? Tidak enak? Tidak juga! Toh Hyunseung tidak melakukan kesalahan fatal pada resepsionis itu kan? Risih. Ya, lebih tepatnya seperti itu.

 

_____

One day later …

 

Yuri menatap nanar sanken-mat dihadapannya. Diatasnya berbaring lemas seseorang yang sangat disayanginya, adiknya, Ara. Pandangannya kini terfokus pada lingkar kepala Ara yang berbalut perban. Tak sampai disitu Yuri kini menatap ruangan disekitarnya. Lampu Ultra Violet untuk mensterilkan ruangan dari kuman dan bakteri. Bed-side monitor untuk memonitor vital sign pasien yang berupa detak jantung, nadi, tekanan darah serta temperatur. Serta cairan infus yang mengalir dari kantungnya sampai ke vena di tangan kiri Ara. Cukup! Ia tidak sanggup melihatnya.

 

“Eonni, aku takut menyebrang. Bagaimana jika aku tertabrak nanti? Bagaimana jika aku mati?”

“Jangan bicara seperti itu sayang. Kau hanya perlu memegang tangan eonni erat-erat dan kau akan baik-baik saja. Kau percaya pada eonni kan?”

“Iya.”

 

Eonni, aku takut menyebrang. Bagaimana jika aku tertabrak nanti? Bagaimana jika aku mati?” Suara parau Ara memecah keheningan kala itu. Mendengar Ara mulai membuka mulutnya adalah hal yang sangat Yuri rindukan setelah satu hari hanya terdiam dengan mata terpejam di atas sanken-mat nya. Puji Tuhan!

Yuri seketika bangkit dari tempat duduknya, hendak menedekat kea rah intercom untuk memanggil dokter. Namun niatnya diurungkan ketika Ara menggenggam erat tangan Yuri. “Eonni aku sudah menggenggam tanganmu erat-erat. Aku baik-baik saja kan? Aku mempercayaimu sepenuhnya!” Yuri tercekat. Hatinya mencelos. Ia ingat betul dengan kalimat-kalimat Ara itu. Ia pernah berjanji pada Ara.

“Semua akan baik-baik saja jika kau menggenggam tangan eonni erat-erat. Percayalah!”

“Iya, aku percaya padamu eonni.”

 

“Iya sayang, kau baik-baik saja.” Aku harap, lanjut Yuri dalam hati.

“Kita dimana?”

“Rumah sakit.”

 

_____

 

Hari ini Hyunseung kembali datang ke rumah sakit St. Mary. Kemarin ia tidak sanggup mendapati death glare dari resepsionis yang tidak pernah lepas darinya. Setidaknya hari ini ia tidak perlu berlama-lama menghadapi resepsionis sinis itu. Oh iya! Kamar nomor 18 di lantai 3 ya .. Atas nama pasien Yoo Ara.. Baiklah..

 

_____

 

Eonni aku ingin pulang saja!” Keluh Ara begitu melihat lingkaran gelap dibawah mata Yuri. Ia menyesal telah merepotkan eonni nya. Tidak tidur semalaman hanya untuk menjaga Ara, itu Yuri!

“Kau baru satu hari disini sayang.. Setidaknya tunggulah sampai..” Yuri menggantung kalimatnya tatkala melihat adiknya sendiri yang terkejut begitu membuka selimut tebalnya.

Eonni?” Kata Ara dengan suara gemetaran.

Ne?”

“Kakiku?”

 

_____

Tak peduli bagaimanapun caranya, Hyunseung bertekad untuk membawa pulang kaset rekamannya hari ini juga. Polisi mengatakan bahwa kasus tabrak lari itu ditutup dan seluruh barang yang berada di sekitar TKP telah diberikan kepada korban. Itu artinya, kaset ia aman sekarang.

Pintu lift terbuka dan menampakan sebuah lorong panjang yang sangat menyeramkan bagi Hyunseung. Ia mulai melangkahkan kakinya dengan setengah hati. Mengitung satu demi satu nomor ruangan pasien. Terhitung dari nomor 16, 17 hingga akhirnya ia sampai pada sebuah kamar yang diatas pintunya tertulis angka 18. Ia hendak mendorong pintunya kala itu juga. Akhirnya.. batinnya.

Namun niatnya diurungkan tatkala melihat sebuah pemandangan yang membuat hatinya berdebar tak karuan. Ia melihat semuanya. Peristiwa airmata itu.. dari kaca kecil yang ada di pintu peach itu.

 

Ara terisak dengan tenang. Ia masih bias mengontrol emosinya. Berbeda dengan Yuri yang sudah dibanjiri airmata sambil meraung kecil. Bukan, bukan Yuri yang sakit saat itu. Tapi ia lebih bisa merasakan apa yang seharusnya dirasakan adiknya. Yuri membekap mulutnya dengan kedua tangannya agar raungannya tidak terlalu keras. Sementara Ara masih fokus pada satu titik. Kakinya. Kakinya berbalut gypsum dengan tongkat yang mengapit kaki kirinya. “Kakiku..”

“Tidak apa-apa sayang..” Kata Yuri sambil mengusap puncak kepala Ara.

Bodoh! Apanya yang tidak apa-apa? Jelas-jelas terjadi sesuatu padanya! Dia sendiri juga menangis kan? Bodoh!

“Lihat bentuknya eonni.. Kenapa miring begitu ya?” Ara terkekeh kecil dengan selingan isak tangis. Ia hanya ingin menghibur dirinya sendiri. Yuri tidak kuat lagi. Ia melempar pandangan ke atas, dimana hanya ada cahaya lampu yang bersinar terang. “Begini tidak apa-apa ya?” Lanjut Ara. Kini kekehannya sudah tidak lagi terdengar. “Tidak apa hiks!” Tidak lagi. Ara menangis sejadi-jadinya. Sebesar apapun usahanya untuk menghibur dirinya sendiri, Ara tetap runtuh. Ia tahu betul kalau ini kenyataan. Ia bukan mimpi. Tak apa selagi kesialan ini datang beriringan dengan niat baik. Ara tidak akan menyalahkan siapapun.

Dia mungkin gadis kecil, namun ia lebih bisa memahami dirinya sendiri. Inikah yang membuat hati seorang Hyunseung tiba-tiba berdesir hebat. Sungguh! Berbeda sekali dengan apa yang terjadi dalam kehidupannya. Kehidupan yang selalu menyalahkan orang lain dan tidak pernah ingin menerima takdir buruk. Padahal hidup ini beriringan. Ada baik, pastilah ada buruk juga. Hidup tidak akan terasa jika kau hanya berada dalam satu titik. Iya bukan?

Tak ada lagi pikiran tentang kaset di benak Hyunseung kala itu. Ia hanya memikirkan gadis itu. Yoo Ara, korban tabrak lari, pasien rumah sakit St. Mary di kamar nomor 18 lantai 2, gadis kecil dengan pemahaman hidup yang luar biasa, gadis kecil yang kini menyimpan kaset rekamannya, serta gadis kecil yang mampu membuat hatinya berdesir. Hebat!

Hyunseung berhenti melamun ketika Yuri membuka pintu. Hyunseung tepat dihadapannya. Ia melihat jelas bagaimana mata panda itu terukir bercampur dengan bengkak seperti kehabisan airmata. “Kau siapa?”

“Apa?” Jawab Hyunseung panik. Memangnya aku harus jawab apa? “Maaf aku salah kamar.” Buru-buru ia berlari menghindari Yuri. Ia bersembunyi di persimpangan lorong lantai itu. Ia benar-benar bingung. Lebih tepatnya, gadis itu telah membuat Hyunseung bingung! Pribadi Hyunseung yang acuh dan tidak tahu diri bias lenyap begitu saja lantaran adegan yang seperti disengaja diputarkan untuknya, untuk membuka hatinya, memulai kehidupan baik, tidak lagi gelap.

Begitu Yuri memasuki lift, Hyunseung berniat untuk melihat keadaan Ara. Ini kesempatan!

Ditatapnya pintu berwarna peach dihadapannya. Apa ia harus benar-benar masuk? “Masuk!” Ucap suara dari dalam ruangan. Ara?

Hyunseung mendorong kenopnya hingga pintu itu terbuka. Sama sekali tak ada suara decitan engsel seperti pintu kamarnya. Disini semuanya rapi, bersih dan sudah pasti steril. Begitu ia masuk, bau obat-obatan yang ia benci tidak begitu menusuk. Mungkin karena ini bukan ruang operasi atau apalah itu. Penerangan di ruangannya sangat cukup. Lampu ultra violet ya? Ia bisa membasmi bakteri dan kuman kan? Batin Hyunseung. Pandangannya merendah kea rah sanken-mat yang bisanya ditiduri Ara. Tapi nihil, Ara tidak ada di atasnya.

“Kau siapa?” suara parau Ara mengejutkan Hyunseung yang masih menggenggam kenop pintu. “Apa kau utusan eomma dan appa?” Apa? Utusan?

“A..ak..ak..akuu..” Harus mengatakan apa?

“Memangnya sesibuk apa mereka sampai tidak sempai menjengukku? Tidakkah mereka ingin melihat kondisiku?”

“Apa?”

“Tapi tak apalah! Selagi mereka mengutus orang kemari, itu artinya mereka masih menyayangiku.” Ara menoleh. Manik matanya tepat menjurus ke dalam manik mata Hyunseung. Luar biasa! Lagi-lagi hati Hyunseung berdesir hebat. Sedetik kemudian Ara menyunggingkan senyum. Tulus. Senyuman itu tidak pernah dilihat Hyunseung sebelumnya. Yang ia tahu hanyalah senyuman jahil khas wanita-wanita bar. “Aku benar kan?” Lanjut Ara.

“Ah? Iya.” Jawab Hyunseung kikuk.

 

_____

One day later..

 

Semilir angin meniupkan rambut panjang Ara yang tergerai. Wajahnya terkadang terasa terusik karena ulah angin-angin jahil itu. Hyunseung yang duduk disebelahnya membantu Ara menyampirkan rambutnya ke belakang telinganya. Ara menoleh dan tersenyum.

“Saat aku sedang sakit, biasanya aku akan berjalan-jalan.” Buka Hyunseung.

“Maka dari itu kau mengajakku jalan-jalan?” Tanya Ara.

Hyunseung mengangguk.”Tapi karena sekarang sudah terlalu sore, sebaiknya kita kembali ke rumah sakit.” Kini Ara yang mengangguk.

Hyunseung membantu menopang tubuh Ara agar tetap seimbang. Ia membantunya hingga kembali terduduk di kursi roda. Taman memang sangat indah, namun akan lebih indah jika kau dating bersama orang yang kau sayangi, atau setidaknya dapat menghiburmu.

 

Roda berputar. Pergelangan kaki kiri Ara masih di gypsum. Sore ini hasil rontgen nya keluar. Kata dokter, jika gypsum dapat sedikit memperbaiki letak tulangnya, maka esoknya Ara sudah dapat melakukan terapi menggunakan kruk. Tidak lagi duduk di kursi roda seharian. Pegal.

 

Suasana sore itu tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa kumpulan remaja yang membuat kelompoknya masing-masing. Ada kelompok yang membawa instrument dan memainkannya seakan-akan mereka sedang berada di panggung besar. Ada juga kelompok yang sedang asyiknya meliuk-liukan tubuh mereka. Sesekali aka nada remaja yang terjatuh, tapi yang lainnya hanya menanggapinya dengan tertawa. Sehingga menit kemudian, mereka akan kembali berbaur. Namun yang menjadi perhatian Ara adalah kelompok klasik yang hanya bermodal gitar dan kertas partitur-partitur yang masih berantakan. Sepertinya mereka sedang membuat lagu. Atau sedang mengaransemen lagu? Entahlah.

“Ara?” Suara Hyunseung menepis semua bayangan di benak Ara.

“Ya?”

“Apa itu sakit?” Tanya Hyunseung dengan tatapan lurus ke depan. Tampak seperti orang yang tidak sedang bertanya.

“Yang ini?” Ara menunjuk kakinya yang masih di gypsum.

“Iya.”

Ara tertawa. Bagaimana utusan ayahnya selucu ini? Hal yang sudah pasti ia tahu jawabannya. Iya bukan?

“Kenapa kau tertawa?”

“Karena kau lucu.”

“Apa?”

“Kau bertanya dengan jawaban yang sudah kau tahu pasti. Bukankah itu lucu?” Ara masih menggapinya dengan lelucon.

“Berarti ‘itu’ sakit?”

“Tentu saja.”

 

Hening. Seketika hening.

 

“Hyunseung?”

Kini Hyunseung yang terkejut karena Ara menyebut namanya. “Iya?”

“Boleh pinjam uang?”

“Tentu saja!” Hyunseung segera mengeluarkan dompetnya dan merogoh uang yang hanya tersisa satu lembar. “10.000 won cukup?”

Ara balas dengan anggukan dan segera menerima uang itu dari tangan Hyunseung. “Tolong disana!” Ara menunjuk kea rah pengemis tua yang tengah menengadahkan tangan meminta bantuan.

Gadis ini! Batin Hyunseung.

Tepat seperti praduga Hyunseung! Ara memberikan uang itu kepada pengemis tua. Lantas pengemis tua itu berterimakasih sambil mendoakan yang terbaik untuk Ara. Hm, jadi seperti ini kesehariannya! Gadis berhati malaikat.

“Aku sering menyisihkan uangku untuk diberikan kepada pengemis-pengemis. Sekalipun aku hanya memiliki uang receh. Halmeoni pernah mengatakan padaku, kalau kita memberi maka kita juga akan menerima. Jadi kau tidak perlu takut kehabisan uang hanya karena memberikannya pada orang yang tidak mampu.” Ara menjelaskan sambil menggunakan nada khas nenek-nenek yang bergetar. Lucu. Tapi sama sekali tak membuat Hyunseung tertawa. Hatinya kembali berdesir. Entah tergerak atau apa, ia pun tidak tahu. Ia melihat betapa istimewanya Ara dilahirkan ke dunia. Tidak sepertinya. Yang hanya mengeluh dan mengeluh, merengek ke orangtuanya meminta uang layaknya pengemis.

 

_____

 

One day later..

 

Kamar nomor 18 di lantai 2. Itulah tempat tujuan Hyunseung. Setiap langkahnya, diiringi dengan niat tulus untuk menemani seseorang yang seharusnya –menurut Hyunseung− tidak ada sangkut pautnya dengannya. Dia siapa? Adik? Bukan. Kakak? Tidak mungkin. Saudari? Bukan bukan! Kekasih? Oh Ayolah! Pikirannya belum tertuju sampai kesana!

“Hyunseung? Appa belum memberitahumu kalau Ara sudah mulai melakukan rawat jalan?” Kejut seseorang dibalik punggung Hyunseung. Yuri.

“Pantas saja aku tidak menemukan Ara.”

“Dia sudah ku antarkan pulang. Aku kemari hanya untuk merapikan barang-barang kami.”

“Oh! Perlu ku bantu?”

“Boleh saja!”

Hyunseung mulai melatih gerak-gerak tubuhnya. Ia menggunakan kakinya untuk mondar-mandir merapikan setiap barang yang tertinggal dan memasukkanya ke dalam koper yang terletak di atas sofa. Yuri juga sedang asyik mengambil setiap tangkai bunga layu dari lima vas berbeda dengan tempat yang berbeda pula.

“Ara menyukai bunga ya?” Tebak Hyunseung yang segera membantu Yuri membuang bunga-bunga layu itu ke tempat sampah.

“Tidak juga.” Kata Yuri sambal menyunggingkan senyum manisnya. “Bunga-bunga ini pemberian teman-temannya yang menjenguk. Ara menyuruhku untuk memajang semuanya. Ia tipikal orang yang sangat menjunjung tinggi rasa saling menghargai.”

“Dia terlalu baik.” Celetuk Hyunseung begitu saja.

Yuri cengo. Dia pikir Hyunseung mirip seperti Ara. Sama-sama berjiwa kemanusiaan yang sangat tinggi. Buktinya? Tak pernah sebelumnya Yuri melihat bawahan appa nya yang begitu tampak ramah dengannya dan juga Ara. Biasanya hanya manusia ber-jas hitam dan bergaya seperti robot. Hanya berbicara saat ditanya dan hanya bergerak jika diperintah. Ya, setidaknya Yuri pernah melihat robot seperti itu saat ia berlibur ke Jepang dahulu. Disana banyak sekali robot canggih yang bisa saja suatu saat nanti akan membuat kehidupan sendiri sehingga menyingkirkan manusia. Itu pikiran Yuri.

“Ah! Sudah selesai.” Ucap Yuri seraya menepuk-nepukan kedua tangannya. “Kau ingin menemui Ara?”

Hyunseung mengangguk.

 

_____

 

Dengan wajah berseri-seri, Hyunseung masuk ke dalam rumah bergaya Victoria dihadapannya. Pintu berwarna putih tulang yang sudah terbuka menyambutnya. Entah kenapa deru nafas Hyunseung kini terdengar sangat jelas. Perasaannya saja atau memang benar? Apa ini karena Ara? Karena Hyunseung ingin bertemu Ara? Benarkah?

 

Kini alis Hyunseung terangkat. Terkejut. Melihat Ara yang berusaha berdiri dengan menopang kedua tangannya di tangan kursi yang tampak gagah. Yuri bergegas meletakkan kopernya dan membantu Ara untuk duduk kembali. Sementara Hyunseung hanya memandang heran.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Yuri pada Ara.

“Tentu saja membukakan pintu untuk kalian.”

“Jadi kau sendiri yang membuka pintunya?”

“Iya.”

Pandangan Yuri dan Hyunseung kini tertuju pada satu titik. Kaki Ara. Bengkak. “Astaga! Kakinya bengkak!”

 

_____

 

“Kau itu benar-benar ya..” Ucap Hyunseung pada Ara.

Tak ada jawaban dari Ara. Ara justru sibuk pada pemandangan dihadapannya. Anak-anak yang sedang berlarian saling mengejar dengan balon warna-warni digenggaman. Indah. Lucu. Momen seperti itulah yang akan selalu kita kenang. Momen dimana tak ada satu masalahpun yang akan terlintas. Momen murni. Momen paling bahagia. Momen yang tercipta begitu saja saat kau masih kecil.

“Kau mendengarku?”

Ara mengangguk dengan fokus yang masih sama.

“Kenapa kau tidak menjawabku?”

“Oh,” Ara mulai menoleh, melihat ke samping kirinya. Tatapannya bertabrakan dengan tatapan Hyunseung. Salah tingkah? Hyunseung justru memalingkan wajahnya. “Yang tadi itu..” Ara menggantung kalimatnya. “Kau membuat pernyataan atau pertanyaan?”

Sekarang Hyunseung yang tidak menjawab. Jujur, dia sendiri juga bingung. Astaga! Apa aku terlahir bodoh? Batin Hyunseung.

“Oh iya! Bisa kau sampaikan rasa terimakasih ku pada appa?” Buka Ara di tengah keheningan atas kebodohan Hyunseung.

“Apa?” Hyunseung, tidakkah kau terlihat semakin bodoh?

“Katakan padanya, terimakasih atas kruk nya. Aku jadi bisa memulai terapi secepatnya.”

Ara, itu kruk dari ku, bukan dari ayahku! Aku Jang Hyunseung, bukan bawahan appa mu! Hyunseung terus merutuk Ara, atau lebih tepatnya juga merutuki dirinya sendiri yang entah kenapa tidak ingin membuka identitasnya yang sebenarnya. Ini semua sudah terlanjur, batinnya.

“Ara..”

“Hyunseung..”

Keduanya mengucapkan nama orang dihadapannya bersamaan.

“Kau duluan.” Kata Ara.

Lady’s first.” Timpal Hyunseung yang malah dibalas dengan senyuman tulus Ara.

“Kau tahu keinginan terbesarku?”

Huh?”

“Aku ingin menyebrang.”

Huh?”

“Karena aku tidak bisa menyebrang, huh?” Ara menoleh, memastikan mimik Hyunseung saatia menggodanya dengan kata “huh”. “Aku kira kau akan mengatakan huh lagi?” Canda Ara.

“Tidak!” Kata Hyunseung sambil menggelengkan kepalnya kuat-kuat. Ara tersenyum. “Bukankah kau kecelakaan di zebra cross? Tempat penyebrangan kan?”

“Iya.”

“Lalu kenapa kau menyebrang?”

“Karena aku ingin memberikan sesuatu pada seseorang.”

“Seseorang? Siapa?”

“Aku tidak tahu!”

“Apa?”

“Aku tidak mengenalnya.”

“Lalu?”

“Aku hanya ingin mengembalikan barangnya yang terjatuh. Saat itu jalanan sedang ramai sekali. Aku hanya melihat wajahnya samar-samar. Yang jelas ia menyebrang saat itu. Dan ya, kau tahu kan cerita selanjutnya?” Tatapan Ara berubah sendu.

“Iya, maafkan aku.”

“Maaf? Atas apa?”

“Maaf karena aku membiarkanmu menceritakan hal getir itu.”

“Ah, tidak tidak! Kau tidak perlu merasa tidak enak. Aku tidak pernah menyesal melakukan hal itu. Niatku baik. Jadi Tuhan pasti memberkatiku.”

Hyunseung mengangguk, sok paham. “Memangnya barang seperti apa yang dijatuhkan orang bodoh itu?” Canda Hyunseung.

Ara terkekeh kecil. Semenit kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya. Kaset. “CD, sepertinya.”

“APA?!”

 

_____

 

Hyunseung menggosok-gosokkan tangannya yang terasa dingin. Berkali-kali ia meniupkan udara dari mulutnya untuk sekedar menghangatkan tubuhnya. Musim cepat sekali berganti. Salju turun dimana-mana. Pemandangan sekitar hanya kristal berwarna putih. Tak ada lagi anak-anak kecil yang berlarian mengejar balonnya yang terbawa angin. Tak ada lagi mentari yang menampakkan diri dengan bulatnya. Tak ada.

Hyunseung yang hari itu akan bertemu dengan pembeli lagu nya saat musim panas lalu itu, sengaja memilih berjalan kaki. Sejujurnya, tak ada alasan khusus yang dapat ia jawab saat hyung nya bertanya “Mengapa kau tidak ingin pergi bersamaku, naik mobil?” Tidak. Hanya itulah kata yang mewakili.

Hyunseung mulai merasakan ada yang ganjal dengan dirinya. Sejak saat itu.. Ia tidak lagi hidup dengan gaya glamour. Sedikit demi sedikit menjauh dari kehidupan gemerlapnya. Menjauh dari teman-teman yang hanya ada saat dompetnya tebal. Menjauh dari gadis-gadis dengan pakaian yang tak selesai di jahit. Robek sana, robek sini. Ia menjauh. Perlahan ia jijik dengan wanita-wanita seperti itu. Wanita bodoh, pikirnya.

Mengingat kata bodoh, mata Hyunseung berkaca-kaca, “Siapa lagi orang terbodoh selain orang yang mencelakakan orang lain dengan menyamar menjadi orang lain pula?” Semuanya.. Semuanya seakan diputar ulang. Semuanya..

Saat dengan santainya ia melihat kecelakaan seseorang. Saat malasnya ia menerima death glare dari suster sinis. Saat kikuknya ia melihat senyuman tulus. Saat bahagianya belajar tentang kehidupan. Hingga sampai saat itu tiba.. Saat semuanya harus terkuak. Bagaikan bangkai yang berusaha ditutup rapat-rapat, akhirnya tercium juga. Dan saat semuanya hancur!

Hyunseung pergi. Ia terlalu terkejut mengetahui semua kenyataan pahit itu. Terlalu kejam untuk Ara. Terlalu bodoh untuknya! Pantas saja ia merasa ada suatu ikatan yang membuatnya tak ingin jauh dari Ara. Jelas-jelas karena ialah penyebabnya! Ialah yang menghancurkan Ara! Maka untuk menghukum dirinya sendiri, ia memilih untuk pergi dan berjanji tidak akan melihat gadis itu lagi. Ara memang terlalu baik untuknya.

Terlalu lama melamun membuat Hyunseung mematung dihadapan zebra cross. Seingatnya, sesaat sebelum kilas balik itu diputar, lampu untuk pejalan kaki sudah berwarna hijau. Tapi sekarang? Memang tampak orang bodoh!

Ting! Lampu berubah warna. Merah untuk pengendara dan hijau untuk pejalan kaki. Sebeleum melangkah, Hyunseung menangkap bayangan seseorang yang dikenalnya dari sudut matanya. Disebelahnya! Tepat disebelahnya! Seorang wanita yang tingginya hanya sebahu Hyunseung. Kedua tangannya disanggah dengan kruk logam. Gadis itu benar benar! Ia melangkahkan kruk dan kakinya dengan mantap. Hyunseung berdebar. Ia takut.

Lucu memang. Gadis itu yang menyebrang, namun Hyunseung yang berdebar. Hyunseung hanya mengikutinya dari belakang. Menunggu langkah pelannya karena kesulitan menyelaraskan gerak kaki kanan dan kirinya. Sementara orang lain sudah terlebih dahulu berjalan, gadis itu masih saja berjalan layaknya siput.

Ting! Lampu kini berganti lagi. Merah untuk pejalan kaki, dan hijau untuk pengendara. Buru-buru Hyunseung menggenggam erat kedua lengan gadis itu dan mempercepat langkah keduanya. Gadis yang dibantunya tidak merespon apapun. Berbicara tidak, bergerakpun tidak. Dalam hati ia bersyukur. Syukurlah aku tidak tertabrak lagi!

 

Teruntuk, Tuan JHS

 

Sesampainya di seberang jalan, gadis itu terpaku. Sementara Hyunseung sudah terlebih dahulu berlalu. “Yoo Ara,” Ucap Hyunseung dalam hati. “Keinginan terbesarmu sudah terlaksana bukan?”

Hyunseung takut. Takut untuk menoleh. Takut kalau tatapannya bersirobok dengan manik gadis itu, pertahannya akan runtuh. Hyunseung bisa saja menitikkan airmatanya. Karena ia merindukannya. Merindukan Yoo Ara. Sambil mengumpulkan keberanian Hyunseung menoleh, memastikan kalau gadis tadi sudah tidak terpaku di hadapan zebra cross. Namun sayang..

Hyunseung tidak melihat gadis itu di hadapan zebra cross. “Secepat itukah ia menghilang?” Hyunseung terus mengedarkan pandangannya ke seluruh arah. Dapat! Gadis itu, Yoo Ara. Dengan mantel bulu berwarna merah muda, celana jeans serta ..flat shoes? Gadis itu tengah bercengkrama dengan pengemis jalanan yang begitu sumringah saat berhadapan dengan Ara. “Malaikat itu..” Ara mengeluarkan dompetnya dan memberikan seluruh uangnya pada pengemis tua itu. “Yoo Ara.” Ara menoleh.

Pandangan mereka bertemu. Ara melemparkan senyuman tulusnya sejauh 10 meter ke depan..

 

Halo! Aku Yoo Ara ^^ Kau sudah mengenalku kan?

Terimakasih karena kau telah membuat lagu sebagus ini. Terimakasih banyak.

Apa kau tahu? Lagu ini adalah kado terindah yang pernah aku dapatkan. Tapi bukankah ini lucu? Aku berusaha mengembalikan kaset yang berisi laguku pada orang yang menjualnya untukku? Hehe..

Oh ya! Maafkan aku dan eonni ku yaa karena kami tidak mengenalimu, karena kami menyangka kau adalah bawahan appa kami. Aku harap kau mau memaafkan kami.

Atas kejadian itu.. Aku.. *Aku bahkan tidak sanggup menulisnya haha* Ini seperti sebuah rencana. Eonni ku pergi ke studio seberang sementara aku diperintah untuk menungguinya di perpustakaan. Kau mengantar lagunya ke hyung mu, kemudian menjualnya. Eonni ku kembali ke perpustakaan dan mempersembahkan lagu itu untukku. Begitu kan rencananya? Tapi beginilah rencana Tuhan. Kau dan aku dipertemukan dalam sebuah kecelakaan. Saat itu aku kira kau orang baik-baik. Namun setelah aku mendengar cerita dari hyung mu, aku cukup terkejut O.o *Maaf, bukan maksudku untuk menyindirmu kekeke* Tapi mendengar penuturan terakhir dari hyung mu yang tak henti berterimakasih padaku itu membuatku terkekeh. Bukankah setiap manusi terlahir baik? Dan akan kembali baik? Ya, seperti kau oppa!

Jangan lagi merasa menyesal atas apa yang telah terjadi. Jangan lagi meremehkan dirimu sendiri dengan membodoh-bodohi diri sendir. Jangan lagi kau ragu untuk sekedar menjengukku. Kau tahu? Aku menunggumu!

Oppa, apa kau masih ingat dengan keinginan terbesarku? Terimakasih, kau telah mengabulkannya ({})

 

Oh ya! Satu lagi! Teruslah berkarya, oppa! Aku rasa lagumu akan laris di pasaran jika kau sungguh-sungguh.

 

Dengan cinta,

Yoo Ara ({})

 

 

Hyunseung terpukau. Pertahanannya runtuh.Airmatanya meluncur begitu saja tanpa ia hendaki. Semuanya bagaikan film yang memaksanya untuk di putar ulang. Surat itu! Ya! Surat yang diberikan hyung nya yang hampir membuatnya spot jantung begitu melihat nama pengirimnya. Yoo Ara.

 

END

Bwahahaha *ketawa setan(?)* Aku mau berbagi sedikit cerita nih *ceilah😀 Awal pemikiran waktu dapet ide tulisan ini, aku sempet mikir kalo ff yang ini bakal ku buat ending yang konsisten////???? (kalo ga happy ending yaa sad ending). Tapi apadaya tangan tak kuasa untuk mengetikkan sebuah(?)ending yang (untuk kesekian kalinya) masih dipertanyakan bahaha😀 Oh ya, kalian ga usah kaget yaa dengan inovasi baru aku ini :3 Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa kok cast nya bukan Sooyoung? terus kenapa kok bisa jadi oneshot? *biasanya kan drable😀 Oke, pertanyaan kalian bakal aku jawab🙂 Simak baek baek yaa o:)

Pertama, aku bawa cast Yoo Ara x Jang Hyunseung *crack-pairing?

Yeah! Aku lagi ikutan kontes fanfic yang pairing cast nya ditentukan. Dari sekian banyak list yang menawarkan cast” ganteng dan cantik, akhirnya pilihan hati mengatakan untuk mengambil cast Yoo Ara dan Hyunseung. Kenapa Yoo Ara dan Hyunseung? Pertama, kalo ngambil cast EXO atau BTS (secara aku EXOSTAN dan ARMY), aku ga bakalan dapet feel buat nulis. Aku ga sreg aja kalo bias aku di couple” in sama yeoja selain sooyoung, ara sama sojin(cs they’r my bias). Daripada kesannya maksa kan mending ga usah😀 Terus aku cari cast sooyoung kaga ada *emang itu yang nyediain kontesnya ga masukin nama uri shikshin* *nangis di pojokan* kalo sojin? aku lebih sreg sama watak sexy buat dia, jadi kepikirannya langsung ke NC *plak padahal gaboleh pake rated itu buat kontes haha😀 sehingga akhirnyaaaa,, antara terpaksa dan memang suka, aku ambil couple yang ini :3 Oh ya, satu lagi! Aku sengaja ngegantung endingnya karena aku punya rencana lain *evil smirk*. Entah kenapa rasanya ga enak aja gitu kalo nulis ff tanpa nama “Sooyoung” *secara dia kakak aku*😀 Jadi aku kepikiran buat bikin sequel ff ini sambil membawa cast baru yaituuuuuuu *ayo semuanya bilang sama samaaaa* satu, dua, tiga, SOOYOUNG !

Kedua, Hika bisa bikin oneshot dengan jumlah kata lebih dari 4000? ga salah liat kan?

silahkan kalian semua periksa ke dokter mata untuk memastikan😀 ini beneran 4000+ kok! Sebenernya pertanyaan ini gabisa aku jelasin dengan jawaban yang panjang lebar. Cukup kalimat ini aja yang mewakili >> “I write because i want, not to amaze people!”

Yaudah deh, kebanyakan ngomong nih kayanya😀

aku mohon jangan ada siders disini. aku cuman mau timbal balik dari kalian. aku hibur kalian dengan ff ini, kalian hibur aku dengan memberi komentar *maunya sih yang positifnya ajaa*😀 jadi kita impas🙂 dan buat yang baik hati, bisa bantu aku buat rate ff ini? terus di komen juga di blog kontesnya🙂 ya ya ya? ramein gituu~ :3 Let’s go!

Thankies ({})

With Love,

Hika

3 thoughts on “Zebra Cross

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s