Simplest One

wpid-photogrid_1404917028239-1.jpg

Simplest One | Cho Hika | Romance and Modern Palace Life | PG-15

Choi Soo Young, Kim Jun Myeon, Ryu (OC)

Everyone had a reason for falling, even the simplest one.

___

 

Asrama Sivera.

 

Sebuah istana yang sengaja di bangun didekat laut Kota tersohor, Sivera. Kota yang menjadi pusat pelatihan dan pendidikan calon-calon pemimpin. Pangeran dan Tuan Putri. Mereka disana. Dilatih dalam berbagai macam kelas untuk menjadi raja dan ratu kelak.

 

Jauh dari hiruk pikuk, kamar nomor 8. Seorang Tuan Putri tengah bersusah payah mengencangkan korset gaunnya. Ia tak henti mengeluh, bahkan melenguh.

“Aku harus terlihat cantik hari ini. Ya! Mulai hari ini! Ugh!”

Satu sumpah seorang tuan putri. Choi Sooyoung, putri yang sangat sulit di atur dalam kelas keputrian.Melihat tingkahnya, Ryu hanya menggelengkan kepala. Jujur, ia tidak tahu pasti tentang apa yang terjadi dengan teman sekamarnya.

“Apa yang membuatmu berputar haluan?” Kata Ryu menyudutkan.

“Kau ini bicara apa?”

Princess Sooyoung dengan kehadiran tiga kali selama satu semester dalam kelas keputrian ingin tampil cantik? Tidakkah hal ini begitu…”

“Aneh?”

 

Nun di langit utara, dua ekor elang laut terbang rendah mematuk ikan-ikan pelagis lalu kembali membubung. Melewati kerumunan orang di halaman masuk istana, tempat berkumpulnya Pangeran dan Tuan Putri yang hendak masuk mengikuti kelas dansa spesial. Kemudian kedua elang itu kembali terbang tinggi. Salah satunya tidak terkendali sampai menabrak jendela kamar Sooyoung dan Ryu. Keduanya terkejut. Tapi untunglah elang itu dapat kembali terbang menyusul temannya.

“Elang itu pertanda baik.” Sahut Ryu yang tiba-tiba beranjak dari meja nakasnya dan membantu Sooyoung untuk mengencangkan korsetnya. “Jadi, ceritakan padaku ‘apa yang terjadi padamu?’ Mengapa kau seperti ini?”

Sooyoung menarik nafas dalam-dalam, ia membiarkan jari-jarinya yang gemetaran menyisiri setiap sela rambutnya yang berantakan. Bercermin seakan ia harus menjadi yang sempurna, mulai dari sekarang!

“Aku rasa aku sedang jatuh cinta.” Perlahan senyum simpul terlukis indah di wajah Sooyoung. Membuatnya semakin terlihat manis. Sempurna.

“Sudah ku duga!” Tebak Ryu. “Jadi seperti apa Pangeran yang berhasil menghilangkan sifat kekanakanmu ini hah?”

“Seperti dia, Pangeran dari Anabelle.”

“APA?!” Ryu terkejut bukan main. Ia hampir saja menyelesaikan simpul ikatan korsetnya, namun harus di ulangi lagi lantaran terlepas. “Pangeran pemalu itu? Kenapa dia?”

“Kau tidak mengerti, Ryu. Kalian tidak mengerti. Mereka tidak mengerti. Tidak ada yang mengerti.” Jawab Sooyoung lesu. Jemarinya saling bertaut dan berketuk satu sama lainnya. Ia selalu takut mendengar ini. Takut mendengar respon orang-orang di sekitarnya saat ia mengatakan ia mencintai Pangeran Junmyeon dari Anabelle.

“Ini sangat lucu, Soo! Wanita hyperactive sepertimu dengan pria pemalu sepertinya?”

“Ku mohon jangan menyudutkanku, Ryu! Aku mengambil simpulan dari apa yang ku rasa. Memangnya salah jika aku mencintainya?” Nada bicara Sooyoung semakin melemah. Keberaniannya semakin menipis.

“Tidak Soo, kau tidak salah. Memang, asumsi setiap insan berbeda-beda. Tapi apa yang membuatmu jatuh cinta kepadanya?”

 

Sooyoung tersenyum. Di benaknya sedang di putar ulang sebuah adegan dalam kelas dansa minggu lalu. Ketika Mrs. Joo memasangkan Pangeran dan Tuan Putri dengan cara berbaris bertolak belakang.

 

Tiga…

 

Dua…

 

Satu…

 

Semuanya berbalik dan melihat pasangannya.

Namun,

 

ketika pasangan lain bertemu pandang, terdapat satu pasangan yang tidak bertemu pandang. Junmyeon-Sooyoung. Sooyoung tersenyum kagum melihat pasangannya yang justru merunduk menatap sepatunya. Tidakkah ini lucu?

 

“Apa yang membuat aku jatuh cinta kepadanya? Adalah saat ia menjaga pandangannya. Saat dengan canggungnya ia merunduk menghadap bumi. Aku menyukai itu. Sangat!” 

Ryu menggumam terkejut, kemudian dengan anggunnya ia menghadap Sooyoung. “Hanya itu?”

 

Pertanyaan yang sangat tidak pantas! Bukankah setiap orang memiliki alasan untuk mencintai —meskipun hanya hal kecil? Bahkan apa yang mereka lihat belum tentu sama dengan apa yang di asumsikan. Silahkan kalian pikirkan baik-baik. Segala sesuatu yang besar dimulai dari hal kecil. Benar ‘kan?

 

 

END

FF ini aku buat karena terinspirasi dari kisah aku sendiri. Yaa intinya, kita bisa cinta sama siapa aja kan? Walaupun cuma karena hal kecil /.\ Toh aku sering banget denger kasus kaya gini. Aku sering jadi tempat curhat temen. Kalo diitung-itung, hampir semua cerita kasmaran itu dimulai dari hal kecil yamg mungkin ga kepikir (?)😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s