Butterfly Boy

image

Butterfly Boy

Presented by

Cho Hika

.

.

Choi Sooyoung, Oh Sehun

PG-15 | Oneshot | Family, Pshyco, Life, Action, Fantasy

.

.

Disclaimer :

PLOT and POSTER is MINE !

A/N :

FF ini terinspirasi dari kisah Nabi Musa a.s yang mencari arti kebijaksanaan. Cuman, di ff ini aku ubah jadi ‘mencari makna hidup’. Kalo disandingin sama kisah aslinya sih jelas beda bingit. So, gausah ragu buat baca fanfic ini. Karena fanfic ini selain bersifat entertaining, juga educating. So, read it slow! ^^

Aku bahkan melakukan survey untuk keberhasilan ff ini. Aku searching tentang filosofi hidup. Dan yang terlintas dipikiranku adalah kupu-kupu. Ditambah lagi dengan imajinasiku yang bisa dibilang diatas rata-rata lantaran keseringan ngehayal(?), jadilah ff ini ber-genre fantasy. Buat Rere yang nge-request pairing ini, semoga suka yah ^^ buat semuanya, enjoy it *wink

.

.

Recomended :
EXO – Don’t Go (Butterfly Girl)

.

“Telur, ulat, kepompong, kupu-kupu. Ketidak-berdayaan, pemakan, kontempilasi dan manfaat.” – Oh Sehun (Butterfly Boy)

.

Argh!

Bodoh!

Bodoh!

Berani kabur dari rumah dengan tangan kosong adalah tindakan terbodoh yang pernah ku lakukan selama hidupku.

Suasana terlalu panas tatkala ibu menyuruhku berhenti bekerja hanya karena ia akan menikah (lagi).

Apa ia sudah gila? Apa ia sudah tidak mencintai mendiang ayah lagi?

Dalam hal ini, tentu saja aku merasa dilema.

Tidak!

Bahkan aku kalut sekarang.

Bukankah dulu ibu yang tak pernah absen menasehatiku tentang masa depan? Tentang karir? Dan tentang perjalanan hidup?

Tapi sekarang? Setelah aku mendulang sukses di kantorku bekerja, ibu justru menyuruhku berhenti? Ck, payah sekali!

Katanya, calon ayahku nanti akan sangat mapan. Hartanya bahkan tidak akan habis sampai 7 turunan.

Ah! Memikirkannya membuatku semakin penat saja!

Untunglah, sekarang aku tidak sendirian. Ada seorang pria yang tengah terduduk kaku di halte tempatku terduduk sekarang.

Mungkin dia sedang menunggu bus atau mungkin juga sedang menunggu hujan reda. Entahlah~

Malam ini mungkin hujan, tapi aku sama sekali tidak merasa kedinginan sekarang.

Melihat wajah pria itu..

Datar, tapi…

Aku lihat ada kehangatan yang terpancar dari setiap lekuk wajahnya.

Kilas kata, dia tampan.

Wush

Angin yang berhembus meruntuhkan pertahananku.

Dinginnya menusuk sampai ke tulang rusuk-ku.

Kreeek

Pria itu berdiri dan menghasilkan decitan dikursi halte.

Astaga! Hendak kemana dia? Sekarang masih turun rintik hujan. Dan bahkan tidak ada bus yang menjamah.

Tunggu!

Kalau dia pergi, maka aku sendirian.

Aku kan wanita.

Dalam malam yang gelap, sendirian ditengah halte, tanpa uang, tanpa ponsel. Astaga!

Bagaimana jika aku diperkosa oleh orang-orang jahat yang tidak berperi-kemanusiaan?

Ah! Lebih baik aku mengikuti pria itu saja!

Wajah damainya mungkin bisa menjadi bukti bahwa ia adalah pria baik-baik.

“Mau kemana kau?”

Aku membuka suara tepat saat ia hampir melangkahkan kakinya.

Dia tidak menoleh. Bahkan ia hanya melihatku dari ujung mata kecilnya. Errr. Ternyata dibalik wajah damainya, sikapnya justru teramat dingin.

Apa aku masih harus percaya padanya? Apa dengan mengikutinya kelak aku akan aman-aman saja?

“Aku sendirian. Tak apa kan jika aku ikut denganmu?”

Pertanyaan aneh itu terlontar begitu saja dari mulutku. Mau bagaimana lagi? Dia harapanku satu-satunya. Dan semoga saja dia tidak menganggapku aneh.

Butuh waktu beberapa menit untuk melihat respon darinya. Hingga aku melihat anggukan kecil dari kepalanya yang terlihat naik-turun.

Ah! Leganya~

“Terimakasih.”

.

Ia menuntun langkah kami tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

Yang terdengar hanya suara rintik hujan yang menyamarkan suara langkah kaki kami berdua.

“Namamu siapa?” Aku membuka percakapan.

Dan untuk pertama kalinya, aku mendengar suaranya.

“Oh Sehun.”

Ya! Hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya.

“Oh! Namaku Choi Sooyoung. Senang berkenalan denganmu, Sehun-ssi.”

Tik tik tik

Lagi-lagi ia hanya diam.

Ah! Malas sekali rasanya.

Ingin sekali kucubit perutnya agar ia mengeluarkan suara. Mengapa dia begitu mahal dimataku, ya?

“Dengar aku, Sooyoung-ssi! Selama kau mengikutiku, selama itu pula kau dilarang untuk banyak bicara, berkomentar dan juga protes. Simpan saja tenagamu untuk hal yang lebih berguna.”

Oh! Kali ini dia seperti menyudutkanku.

Baiklah, baiklah~ Intinya, just do it!

“Nah! Kita hampir sampai.”

Ia menunjuk sebuah rumah kecil yang terdiri dari bilik-bilik usang yang mungkin saja akan segera runtuh.

.

“Sehun-ssi! Mengapa kau merubuhkan dan membakar rumah itu? Perbuatanmu itu sangat tidak pantas! Memangnya kau kenal dengan pemiliknya, eoh?!”

Ia terdiam. Kemudian menatapku dingin. “Kau melanggar aturan, Sooyoung-ssi!” Astaga! Tatapannya kali ini cukup mencekam.

Well, peraturan yang dimaksudnya mungkin tentang ‘dilarang untuk banyak bicara, berkomentar dan juga protes.’

Oke, aku mengakui aku telah melanggar aturannya. Tapi,

Dia baru saja merubuhkan dan membakar rumah itu! Apa dia gila? Untung saja dirumah itu sedang tidak ada orangnya.

Yaa, meskipun aku tidak tahu pasti tentang ada/tidaknya orang didalam. Tapi melihat rumah itu yang sangat sepi, sepertinya memang sedang kosong disana.

“Sekarang pergilah.” Perintah Sehun dengan nada datarnya.

Hey! Aku tidak mungkin pergi begitu saja. Setidaknya aku aman bersamanya, ya kan?

“Kumohon maafkan aku sekali ini saja. Aku berjanji tidak akan berkomentar lagi.” Pintaku iba dengan wajah memelas.

Masih dengan tatapan dinginnya, ia kembali menunjukan sebuah anggukan kecil dikepalanya.

“Terimakasih.”

Dan lagi, ia menuntun langkah kaki kami dengan ditemani langit yang semakin gelap. Untunglah, rintik hujan itu telah berhenti.

Lagipula aku sudah merasa hangat sekarang. Mungkin ini efek karena Sehun membakar rumah tadi.

.

Sungguh!

Kejadian kedua ini tidak kuasa lagi aku membendung mulut iba-ku.

Sedari tadi aku mengomelinya lantaran ia baru saja membunuh seorang pemuda yang kebetulan lewat di persimpangan jalan yang sepi.

Aku melihat kejadian itu!

Aku melihat bagaimana Sehun mulai menarik kerah lawannya, memukulinya, menyikutnya, menendangnya, dan ah! Yang terakhir, ia memukul kepala pemuda itu dengan batu. Yes! He’s great! But,

Sadis!

Oh Sehun! Sepertinya dia benar-benar gila!

“Oh Sehun! Sebenarnya kau itu sedang apa, eoh?! Mengapa kau melakukan hal-hal yang tidak berperi-kemanusiaan seperti itu? Apa kau gila?!”

Ya, begitulah sekiranya beberapa kalimat yang terlontar kilat dari mulutku.

Seperti biasa, dia hanya terdiam. Kemudian ia mendekat ke arahku.

“Cukup Nona Choi. Sepertinya sulit sekali untuk menutup mulutmu itu. Kau tidak tahu yang sebenarnya terjadi bukan?”

Kata-katanya barusan cukup menusuk pendengaranku.

Mulai dari ‘menutup mulut’.

Hey! Selebar apakah mulutku sampai-sampai sulit tertutup?

Dan satu lagi!

Aku memang tidak tahu yang sebenarnya terjadi.

Memangnya apa yang sebenarnya terjadi?

“Aku akan menjelaskannya.” Tutur Sehun seakan mendengar ucapan dalam hatiku.

Aku mengangguk, berusaha untuk tidak berkomentar.

“Pertama,”

Baiklah, aku sudah siap menjadi pendengar yang baik sekarang.

“Rumah itu.”

Oh! Mungkin maksudnya adalah rumah yang dibakarnya tadi.

“Didalamnya terdapat harta yang sangat banyak.”

Wow

Baiklah, mulutku cukup membulat besar sekarang. Tapi untunglah aku tidak mengeluarkan suara.

“Harta yang tertinggal didalamnya adalah harta milik anak yatim. Hanya saja..”

Apa? Apa? Sepertinya seru sekali!

“Mereka ribut karena harta warisan tersebut.”

Oh, jadi orangtua mereka sudah meninggal. Kasihan sekali.

“Sehingga seluruh dari mereka meninggalkan rumah itu untuk menenangkan diri dari keserakahan masing-masing. Tapi setahuku, mereka meninggalkan rumah itu untuk menyusun strategi tentang bagaimana caranya agar salah satu dari mereka mendapatkan harta yang paling banyak.”

Ah! Aku rasa itu hanya bualan.

“Aku serius.”

Hey, apa dia mendengar kata hatiku?

“Pada akhirnya mereka semua akan terus bertengkar dan berujung pada putusnya ikatan saudara sepihak. Sungguh! Itu adalah dosa besar.”

Huh! Apa katanya?

Dosa?

Lalu membunuh pemuda tadi bukanlah dosa, begitu?

Baiklah! Kembali fokus pada ceritanya.

“Jadi lebih baik ku bakar saja seluruh harta itu.”

“Tapi bagaimana mereka melanjutkan hidup?”

Astaga! Aku lupa janji soal menutup mulut itu.

Segera aku membekap mulutku sendiri dengan kedua tanganku.

“Mereka masih segar bugar, Sooyoung-ssi. Mereka bisa bekerja. Lagipula semasa orangtua mereka hidup, mereka juga bekerja.”

‘Cukup rasional!’ Gumamku dalam hati.

Eh! Ada yang aneh disini.

Tadi saat aku bertanya, Sehun menjawabku. Dia bahkan tidak melempar tatapan dinginnya (lagi) padaku. Baiklah, aku rasa kami sedang dalam sesi talk-active sekarang.

“Apa aku boleh bertanya?” Ucapku seraya mengacungkan tangan.

Ia mengangguk.

“Dari mana kau tahu kalau mereka anak yatim? Dan juga darimana kau tahu tentang banyaknya harta didalam rumah itu?”

“Aku tahu.” Begitu jawaban singkat yang berhasil membuat telingaku gatal.

“Kedua,” Lanjutnya setelah ia melihatku menggaruk telingaku yang gatal atas jawaban singkatnya.

“Pemuda itu.”

Ya, aku tahu!

“Dia generasi perusak. Morilnya bahkan dibawah rata-rata.”

Lagi-lagi muncul pertanyaan dalam benakku. Tapi sebaiknya kusimpan dulu sampai Sehun selesai bicara.

“Daripada ia hidup penuh dosa, lebih baik ia mati sekarang.”

Penjelasan yang cukup aneh.

Baiklah, aku akan bertanya.

“Nah! Sekarang dari mana kau tahu bahwa pemuda itu seorang perusak? Dan jika hidup maka ia akan bergelimang dosa?”

“Aku tahu.”

Sial! Jawaban itu lagi.

“Aku bahkan tahu kalau kau sedang mengalami konflik internal.”

“Apa?!”

Sukses sekali dia membuatku terkejut!

“Dan sekarang giliranmu!”

Apa maksudnya?

“Setelah aku memberi pelajaran untuk anak yatim, kemudian pemuda, dan setelah itu aku akan memberi pelajaran kepadamu, Nona Choi!”

Bagaimana ini? Pikiran kotorku sudah menyeruak sekarang.

Tentang rumah yang dibakar, pemuda yang dibunuh, dan aku?

Oh My! Akan diapakan aku?

Aku panik dan berusaha untuk lari. Tapi sialnya tanganku berhasil diraihnya. Tenaganya cukup kuat untuk menahan tubuhku.

“Lepaskan!” Aku meronta-ronta sambil berusaha menarik tanganku kembali.

Percuma saja jika aku minta tolong disini. Ini hanya jalanan sepi dan juga malam tanpa penerangan yang cukup.

“Ikut aku.” Desisnya tepat ditelingaku.

.

One year later…

Sudah cukup bagiku untuk berpikir matang-matang tentang masa depanku bersama keluarga dan juga karirku. Sehun benar-benar berhasil memberiku pelajaran kala itu.

Tapi…

Aku belum melihatnya lagi setelah kejadian malam itu.

Hampir setiap hari aku mengunjungi halte tempat kami bertemu. Hasilnya nihil. Ia sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya.

Pernah sebulan yang lalu aku mampir ke rumah yang pernah dibakar Sehun. Rumah itu telah terbangun kembali sekarang. Anak-anak yatim itu kompak bekerja sama membangun rumah yang baru untuk mereka singgahi bersama. Walaupun terbilang cukup kecil dan sederhana, tapi aku melihat aura bahagia yang terpancar dari dalamnya. Hanya saja, aku masih belum menemukan Sehun.

Dan lagi. Aku bahkan sering melewati jalan saat Sehun membunuh seorang pemuda. Jalan itu terlalu ramai sekarang. Sulit sekali rasanya untuk menemukan satu orang ditengah kerumunan orang-orang yang padat.

Hmm, dia seperti ditelan bumi saja. Benar-benar membuatku merasa kehilangan.

Entah mengapa aku selalu terbayang-bayang akan Sehun. Bagaimana tidak? Dia yang merubah hidupku menjadi lebih baik sekarang.

Aku lebih arif dalam mengambil keputusan. Lebih bertanggung jawab atas perlakuan. Dan lebih menghargai serta mensyukuri tentang apa yang sudah kumiliki.

Setidaknya berjalan-jalan ditepi pantai sedikit membuatku lebih tenang. Melihat laut yang berombak, nyiur yang melambai, burung yang berterbangan, serta…

Hey! Ada kupu-kupu!

Baru kali ini aku melihat kupu-kupu terbang ditepi pantai. Apa dia tidak takut terbawa angin? Angin laut kan bisa saja menyapunya pergi. Kepakan sayap kecilnya sudah jelas dapat membuktikan betapa kalah telaknya sang kupu-kupu.

Aku hendak mengejarnya dan menangkapnya. Lumayan kan untuk dijadikan pajangan di toples kesayanganku?

Tapi sayangnya kupu-kupu itu terbang terlalu jauh hingga aku lelah mengejarnya.

Dan muncullah~

Sosok yang selama ini kucari.

Oh Sehun!

Ia datang tepat dihadapanku dengan kupu-kupu tadi yang hinggap ditangannya.

Tanpa sadar, seulas senyum terukir dengan mudahnya dari wajahku.

Dan untuk pertama kalinya, Sehun tersenyum padaku.

“Masih ingat denganku, Nona Choi?” Begitu katanya.

“Sehuuuun!” Emosiku terpancing begitu saja saat melihat ia memulai pembicaraan diantara kami. Aku memeluknya erat sekarang. Rasa rindu ini mungkin terlalu berlebihan. Tapi, aku memang merindukannya. Entah merindukannya sebagai apa.

“Kau merindukanku ya?”

“Iya. Hiks..”

Astaga! Segukan tangisku terdengar begitu jelas.

“Maaf aku baru bisa muncul sekarang,”

Ia mengusap punggungku lembut.

“Kau tahu? Setahun belakangan ini aku memantaumu. Aku salut dengan perubahan tekadmu. Kau telah berhasil menjadi kupu-kupu bersayap indah sekarang.”

“Tapi, bagaimana kau bisa tahu?” Aku melepas kontak fisik yang kami lakukan sambil mengusap airmataku.

“Aku tahu.”

Aku tertawa renyah. Mendengar kalimat andalannya itu membuatku mengingat masa-masa satu tahun silam.

“Sampaikan salamku pada ibumu ya? Aku turut senang mengetahui bahwa beliau sudah menikah dan hidup bahagia bersama pasangannya serta putri tercintanya ini.” Ia menyentuh hidungku dengan hidungnya. Astaga! Dia benar-benar manis sekarang.

“Ne, akan ku sampaikan. Tapi Sehun..” Kalimatku terpotong saat ia mulai menyela.

“Aku titip kupu-kupu ini ya?” Dengan sendirinya kupu-kupu itu terbang dari punggung tangan Sehun dan hinggap di punggung tanganku. “Siapa tahu dengan kau menyimpannya, kau dapat terus mengingatku.”

Tak ubahnya seperti seseorang yang terkena hipnosis, aku mengangguk begitu saja.

“Sooyoung?” Itu suara ibuku.

“Ibu?” Ternyata beliau sudah berada dibalik punggungku sekarang.

“Sedang apa kau disini? Dari tadi ibu perhatikan kamu berbicara sendiri.”

“Ah? Apa? Bicara sendiri?”

Aku berbalik, memastikan Sehun yang masih berdiri dengan kokohnya sambil melempar senyum.

“Aku tidak bicara sendiri, bu~”

“Ah sudahlah! Yang penting pastikan kau kembali ke mobil sebelum ayah dan ibumu meninggalkanmu sendirian disini. Mengerti?”

Setelah mengangguk, ibuku berlenggang begitu saja meninggalkanku yang tengah mematung ‘tak habis pikir’.

“Sehun?”

Lawan bicaraku ini benar-benar membuatku tak habis pikir.

“Ya?” Sahutnya santai.

“Mengapa ibuku tidak melihatmu ya? Apa karena kau terlalu kurus? Ah~ kurasa tidak! Aku kan juga kurus. Tapi ibu masih bisa melihatku.”

Sehun hanya bergumam sambil menaikan bahunya pelan, kemudian menurunkannya.

Sejujurnya, agak aneh memang. Melihat orang-orang sekitar pantai yang berlalu lalang menatapku heran. Aku mulai curiga pada Sehun.

“Sehun, kau ini..”

Lagi-lagi kalimatku terpotong.

“Sudah saatnya aku pamit.” Serunya seraya melihat arloji ditangan kirinya.

Cup.

Ia mengecup pupiku kilat.

“Senang bertemu denganmu. Semoga kita dapat berjumpa lagi.” Desisnya tepat didepan telingaku.

Aku memaku sekarang. Bahkan aku tak bisa berkedip lantaran shock ringan yang menerpaku.

Ia berjalan santai meninggalkan jejak langkahnya di pesisir pantai.

“Jangan lupakan aku ya? Dan ingatlah soal filosofi kupu-kupu yang sudah ku ceritakan padamu.” Ia berteriak melawan suara deru ombak. Diakhir perjumpaan kami, ia melambailan tangannya penuh antusias.

Dip.

Saat aku berkedip, sosoknya telah hilang entah kemana.

Merasa penasaran, aku mengikuti jejak langkahnya.

Tapi sial!

Ombak mengahapus jejak itu.

Hey! Mengapa aku merasa menyesal karena telah mengedipkan mataku?

Dasar bodoh!

Eh! Tunggu!

Kupu-kupu cantik ini rupanya masih betah bertengger di punggung tanganku.

Baiklah! Ini satu-satunya kenangan kami yang dapat ku lihat dengan mata telanjang. Sementara kenangan lainnya hanya bisa kuputar ulang dalam hatiku.

Melempar pandangan ke laut, tak ayal membuatku mengingat kejadian kala malam satu tahun silam.

FLASHBACK ON

“Lepaskan! Lepaskan aku Sehun-ssi! Kumohon jangan apa-apakan aku! Aku masih ingin hidup normal!”

Aku menangis sambil berusaha memberontak agar Sehun mau melepaskan cengkraman tanganya yang sangat kuat itu.

“Sudah kubilang diam!” Ucapnya kasar.

Kami berhenti tepat dipinggir pantai yang bertengger perahu kayu kecil serta lampion nelayan disana.

‘Dia pasti ingin membunuhku!’

Bagaimana jika ia membawaku ke tengah laut, kemudian melemparku?

Atau bagaimana jika ia menyuruhku menaiki perahu itu yang sudah jelas ia lubangi agar aku tenggelam ditengah laut?

Ya Tuhan~ Aku tahu aku salah sekarang. Sudah cukup bagiku untuk menerima pelajaranmu malam ini. Aku ingin pulang~

“Naiklah.” Ucap Sehun dengan nada yang lebih rendah.

“Tidak mau!”

“Aku tidak akan berbuat hal yang macam-macam.”

Tolong aku! Apa aku bisa mempercayai kata-katanya?

“Kau bisa pegang ucapanku. Jadi sekarang naiklah.”

Baiklah! Lagipula aku sudah tidak bisa berontak lagi sekarang. Aku sudah lelah menangis meraung-raung. Dan kakiku sudah terlanjur lemas karena gemetaran takut-takut Sehun bertindak macam-macam. Aku memang harus duduk sekarang. Sehingga aku memutuskan untuk naik ke perahunya dan duduk tenang disana.

Perlahan Sehun mendayung perahunya dengan arah yang tidak ku ketahui.

Aku sudah pasrah sekarang.

Dalam hati aku memohon ampun atas segala kesalahanku yang mungkin akan mendapat balasan setimpal nantinya.

Tapi aku belum siap mati sekarang.

Mengingat tubuhku yang tengah menggigil hebat karena desakan angin laut di malam hari yang benar-benar terasa menusuk.

“Bagaimana perasaanmu sekarang?” Tutur Sehun sambil menghentikan gerak dayungnya.

‘Menyesal’

Ah! Lidahku kelu sampai aku tak bisa mengeluarkan suara.

“Menyesal? Begitulah perasaan ibumu sekarang. Ia menyesal telah mengambil keputusan yang bertolak belakang dengan keputusan putrinya.”

Begitukah?

“Lalu apa lagi?”

‘Takut’

Semoga ia mendengarku.

“Takut? Ibumu juga takut! Takut-takut kalau putri kesayangannya kenapa-kenapa. Beliau takut kau berbuat hal yang diluar batas. Beliau takut kau celaka. Beliau takut tidak bisa melihatmu lagi.”

‘Sehun, kumohon jangan membuatku semakin merasa bersalah. Apakah angin dingin yang menusuk tulang-tulangku ini belum setimpal dengan semua kesalahanku? Aku kedinginan’

“Kau kedinginan? Hati ibumu jauh lebih kedinginan, Sooyoung-ssi! Ia merindukanmu! Merindukan putri tunggalnya untuk datang kembali padanya, dan membuat hatinya hangat kembali.”

Aku menitikan air mata. Bagaimana bisa orang asing bahkan menasehatiku? Aku malu pada diriku sendiri.

‘Disini gelap, aku ingin kembali saja!’

“Ibumu juga merasakan hal yang sama, Sooyoung-ssi! Hatinya gelap sekarang. Kenapa? Karena hanya kau lah penerang hatinya.”

Hiks… Hiks…

Ya Tuhan~ Mohon maafkan aku. Aku berjanji akan lebih berpikir matang-matang sebelum dikalahkan oleh ego-ku. Jadi kumohon, pertemukan aku dengan ibuku. Walaupun untuk yang terakhir kalinya, aku rela! Aku hanya ingin mengatakan ‘Maaf’ dan ‘Terimakasih’ untuknya.

“Baiklah, sekarang mari kita pulang.”

Sehun memberikan jaketnya padaku. Dengan susah payah aku meraihnya dan menggunakannya.

“Akan kuceritakan sebuah filosofi tentang hidup untukmu, Choi Sooyoung.”

‘Terimakasih sebelumnya, Oh Sehun.’

“Ini tentang kupu-kupu. Tentang metamorfosis sempurnanya. Yang secara tidak langsung memberi hikmah bagi metamorfosis perjalanan hidup manusia.

Telur, Ulat, Kepompong, Kupu-kupu. Anak kecil bahkan mengetahui tentang urutan metamorfosis itu. Tapi hanya orang-orang yang berwawasan luas lah yang dapat mengambil hikmah didalamnya.

Dimulai dari telur.

Telur berarti ketergantungan atau ketidak berdayaan.

Saat kau kecil, kau masih diasuh oleh orangtuamu. Mereka akan memberimu apapun yang kau mau selagi mereka bisa. Mengapa mereka melakukan itu? Jika kau menjawab ‘karena kasihan’, itu salah besar. Yang benar adalah ‘karena perhatian’. Mereka akan memperhatikanmu yang tidak berdaya, karena mereka tahu bahwa suatu saat nanti roda akan berputar. Kau tahu? Mereka akan sangat bahagia jika kelak anaknya yang tidak berdaya menjadi berdaya besar.

Kemudian, Ulat.

Ulat akan terus makan dan makan. Sangat persis mencerminkan sikap hedonik yang mana hanya bertujuan untuk menyenangkan diri sendiri tanpa memikirkan dampak buruk bagi orang lain.

Selanjutnya kepompong.

Sangat berkaitan erat tentang kontemplasi atau sebuah perenungan. Dimana kau akan mulai menjaga jarak dengan kesenangan diri sendiri dan mulai merenungkan hidup dimasa depan.

Dan yang terakhir, kupu-kupu. Yang artinya keindahan atau manfaat.

Mereka akan memberi hasil dari proses panjangnya ini. Mereka akan mulai menjalin kerjasama yang saling menguntungkan, atau mutualisme. Dengan begitu juga kupu-kupu melambangkan sebuah kepedulian.

Kupu-kupu dengan sayap yang indah bahkan dapat dikatakan ‘bisa menyesuaikan diri’. Bagaimana tidak? Mereka telah menyelaraskan warna sayapnya dengan warna-warni bunga yang ada. Mereka tercipta untuk menyelaraskan diri terhadap lingkungan sekitar.

Dibalik kelembutan dan keindahannya, kupu-kupu bahkan rela terbang sejauh 60 mil untuk mencari makan. Intinya, dia sangat pekerja keras.

Nah! Sudah sampai.”

Ah! Tidak terasa perahu kami telah mendarat mulus ditepi pantai.

“Mari.” Sehun mengulurkan tangannya untuk membantuku bangkit.

Hangat sekali!

“Sekarang, aku akan mengantarmu pulang.”

Aku mengangguk. Aku rasa, Tuhan telah mengutus Sehun untuk mengubah tikungan di pikiranku menjadi jalan lurus.

“Ehm, Sehun?” Aku berbicara dengan nada yang sangat pelan.

“Ya?”

“Jadi, dalam fase apa aku sekarang ini?”

Sehun berpikir sejenak. Hingga akhirnya ia membuka suara.

“Kau ulat yang tengah menjadi kepompong.”

“Oh.” Tuturku datar.

“Dan sebentar lagi kau akan menjadi kupu-kupu dengan sayap yang indah.”

“Benarkah? Bagaimana kau tahu?”

“Aku tahu!”

FLASHBACK OFF

EPILOG

“Selamat! Misimu berhasil, Butterfly Sehun!”

“Terimakasih ButterflyBoss.”

“Kau patut mendapat penghargaan atas ini.”

“Sebuah kebanggaan bagi saya untuk menerima penghargaan dari Anda, ButterflyBoss.”

END

Yuhu~ Ini ff dengan pairing SooHun perdanaku🙂 Apakah feel mereka dapet? Apakah Sehun cocok berperan sebagai Butterfly Boy disini? Kalo kalian ngerasa ga cocok, coba deh liat Sehun di MV MAMA. Kan dia didepan angin puyuh(?) dihinggapin kupu-kupu. Muka dia dewasa banget di part itu :3 bikin melting deh udah kaya angel🙂

Buat Rere, aku masih punya 2 hutang ff ke kamu ya? Yang SooBaek sama SooHan pairing. Next bakalan aku post yang SooBaek, setelah itu baru yang SooHan. So, stay tune yaa ^^

For all reader, comment juseyo~ ^^

Love,
Hika

35 thoughts on “Butterfly Boy

  1. ff nya bagus loh,mendidik gitu ada amanatnya-biasanya kan cinta-cintaan melulu🙂.. jadi inget pas nabi musa ngikutin seorg nabi.

    Sehun cocok deh jadi pria kupu2,ganteng ^^

    2 thumb…^^

    1. Gomawo ya ^^ iya, akhir” ini aku emang lebih suka nulis sesuatu yang educating🙂 nabi khidr ya kalo gasalah? /mikir/
      Ya, ketampanannya sudah diakui kok🙂
      Thanks ya ^^

    1. Ahh kamu berlebihan saeng, aku jadi malu *alah😀 baguslah kalo kamu suka, makasih yaa🙂
      Sip deh (y) tapi aku gajanji ya kalo ff berikutnya bakal lebih baik lagi. Harap maklum aja, imajinasiku ini moody-an😀

  2. Ini sumpah ini bagus banget :’)
    ini mendidik, Sehun kok bijak banget ya, tumben wakakak
    Tapi si sehun agak horror juga sih kagak keliatan sama orang lain ‘-‘
    Bagus, ditunggu ff SooHun lainnya😀 fighting ‘-‘)9

  3. Daebak ceritanya! Mengandung pesan dan pelajaran yang sgt berguna. Beda dr ff yang lain. Disini romantis dan didikannya nyatu, bacanya jadi enak. Bahasanya juga gampang di mengerti. Ditunggu ff SeSoo selanjutnya ya (•ˆ⌣ˆ•)

  4. aku suka>< ff nya learning banget. banyak yang bisa dipetik dari ff ini /dikira buah dipetik-_-/
    trus feelnya juga dapet. sehuna dewasa banget disini, cocok. SooHun manis! -w-

    great job buat author~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s